Minggu, 05 Juli 2009

MARAH DAN KRITIK

Marah biasanya muncul bila kita yang disebut subyek mengalami tekanan baik secara emosional dari obyek atau dampak suatu masalah yang ditangkap oleh indera subyek yang menimbulkan Human Agressive. Respon marah dapat terjadi karena ada konflik internal maupun eksternal yang tidak terselesaikan yang akibat konfliknya terjadi diluar dugaan.
Bila seseorang tidak mempunyai mekanisme koping yang baik dalam menyelesaikan suatu masalah hal ini menimbulkan sensitifitas tinggi memicu kemarahan, dan banyak tidak mengedepankan rasio dalam proses kemarahan.

Kemarahan yang konstruktif haruslah mengedepankan rasio dalam mengekpresikan suatu kemarahan. Bukan sesuatu hal yang subyektif menjadi pemicu dan hal itu akan berdampak buruk terhadap lingkungan(kerja,rumah,dll).

Dalam dunia kerja banyak hal yang dapat menimbulkan kemarahan dari pimpinan dan staf. Kemarahan banyak terkait dengan kritikan-kritikan yang terkadang kurang tepat(terlalu subyektif) terhadap atasan maupun bawahan. Terkadang terlalu marah kita cepat mengatakan dia itu bodoh, bandit, tak mau diatur, bandel, dungu, dan lain sebagainya. Pernyataan seperti itu tidak tepat dalam memberikan umpan balik kepada si penerima pesan(si salah). Lebih baik mengatakan kamu jangan lagi terlambat, tolong suratnya segera dikirim, kerjakan itu baik-baik, dll.

Kritik yang membangun(Assertif) adalah kritik yang mengena kepada perilaku obyektif seseorang yang didasarkan sikap obyektif si penegur. Tidak menegur perilaku obyektif namun tidak dicari akar permasalahannya terlebih dahulu. Oleh sebab itu penegur harus perperilaku obyektif informatif dahulu baru memberikan respon.

Oleh karena itu marilah kita memenage marah kita, karena marah dapat dijadikan kunci kesuksesan sikap dan emosi dalam menghadapi suatu masalah. Marilah kita mengendalikan kemarahan dalam dunia kerja dengan selalu memberikan kritik yang assertif sehingga tercipta lingkungan kerja dan luar kerja yang damai diantara semua orang.

Ingat marah tidak berarti diam saja, dan kritik tidak selalu marah saja.